Spontan. Itu reaksi yang paling sering aku lakukan setiap mengambil keputusan.
Sama seperti waktu aku mencoba utk mencintaimu, spontan.
Mungkin dari spontan juga, aku mengerti kamu.
Mengerti semua yang kamu pancarkan dari senyum manismu yang tidak pernah pudar meski hari telah berganti, musim berganti musim.
Aku spontan mencintaimu, ketika kau mengatakan "Aku juga suka dengan senja"
Spontan.
Aku berdecak kagum. Kita punya persamaan.
Kau juga menyukai laut yang tak henti-hentinya menciptakan ombak.
Spontan aku mencintaimu.
Sampai tiba saatnya, engkau pergi. Pergi ke tempat yang tidak enggan aku sambangi. Saat ini. Menit ini. Detik ini.
Terima kasih telah spontan datang ke kehidupanku. Mengajari aku bagaimana arti mencintaimu, sesungguhnya.
Sampaikan salamku kepada malaikat yang menjemputmu. Suatu saat, kita pasti akan bertemu kembali. Dalam kondisi, saat pertama kali, kita bertemu. Spontan.
BigLove,
Adinda Bintang
Tuesday, April 9, 2013
Wednesday, April 3, 2013
Buku dan Kamu
Setahun belakangan, saya memang tengah rajin-rajinnya masuk ke toko buku. Dari sekian banyak kedatangan saya kesana, ada beberapa kali memang saya membeli buku.
Ini yang akan menjadi topik pembicaraan saya. Coba perhatikan, saya yang memang gemar membaca buku sejak kecil ini, tampak mulai menyadari, bahwa dalam pencarian buku rupanya saya dipengaruhi usia yang tidak bisa lagi dikatakan muda. Usia saya sudah 27. Benarkan, bukan lagi bisa disebut usia muda? :p
Sewaktu kecil, saya lebih senang mampir ke rak buku yang menawarkan dongeng dan kisah-kisah ringan yang tidak perlu sampai mengernyitkan dahi.
Tapi kini, telah beda. Saya mulai mencari buku yang membuat otak saya banyak berpikir, dan tak jarang juga membuat saya terpacu untuk lebih baik lagi. Ya misalnya seperti, buku-buku motivasi dan biografi orang-orang hebat.
Hal ini juga sepertinya mendasari saya, ketika ingin mencari pendamping hidup. Di usia ABG, mungkin benar saya mencari pacar yang hanya bermodalkan tampan. Awal-awal masuk kerja, tipe pacar saya juga tentu bergeser. Saya lebih senang dengan pria yang punya motivasi tinggi untuk hidupnya.
Dan sekarang, di usia yang saya sebutkan, tidak muda ini, saya mulai menyadari, keinginan saya mencari pasangan hidup yang lebih berbobot. Yang pintar, punya pekerjaan mapan, keinginannya kuat, serta tentu saja takut akan Sang Maha Penciptanya.
Namanya juga impian, harus yang setinggi langit. Begitulah pernyataan yang sering saya dengar dari banyak motivator.
Jadi memang tidak salah kan, kalau saya samakan Buku dengan pasangan hidup saya kelak. Sama-sama harus berbobot. #eeeaaaa
Demikianlah tulisan ini, berdasarkan apa yang tiba-tiba terlintas di kepala saya beberapa menit lalu. Setuju ya Alhamdulillah, enggak juga tidak masalah :p :p :p
Salam jilbab,
Adinda Bintang
Thursday, March 28, 2013
Sahabatku, Meri...
Saat sedang menulis ini, hati saya tengah berbahagia. Bukan karena saya telah menemukan tambatan hati yang baru. Bukan, bukan karena itu.
Sahabat saya, yang menghilang beberapa tahun lalu, baru saja menghubungi via telepon. Awalnya memang saya duluan yang mengirimkan pesan singkat kepadanya. Namun, karena format sms di BlackBerry saya, tidak sama di handphone dia, jadi pesan tersebut tidak dia terima.
Oh iya saya lupa perkenalkan namanya. Nama sahabat saya sejak kelas 1 SMA ini bernama Merita Zulfa Kurniasari. Cukup panggil dia, Meri.
Meri: Halo, ini siapa ya, sms nya kepotong soalnya di hp aku.
Adinda: Siapa hayo ini?
Meri: Dari suaranya sih kenal ya. Siapa sih? Dinda ya?
Seketika itu juga, saya ketawa bahagia.
Adinda: Ihhh Meriiiiiiiii, apa kabar? Gue dong hapal gitu no telepon elo. Hahahahaaa...
Percakapan yang tidak lebih dari 15 menit itu, harus terhenti, karena Meri masih harus kembali bekerja. Meri sempat mengatakan, dia menangis ketika tahu yang dia hubungi itu ternyata saya. Saya juga menyampaikan, rindu yang teramat karena memang dulu kami terbiasa bersama. Setiap hari sms an, hampir tiap minggu pergi, hanya untuk sekedar makan atau window shopping.
Rasa-rasanya tidak etis, kalau saya harus memaparkan apa kesalahan yang membuat kami terpisah cukup lama. Namanya manusia pasti punya salah, juga sering melakukan kekeliruan. Hal yang lumrah. Namun, bagaimana kita menyikapinya itulah yang menuntun kita ke jalan yang lebih baik, atau yang lebih enak disebut dengan 'Kedewasaan'.
Pembicaraan singkat dan heboh saya dengan Meri, adalah juga sebentuk potret bahwa persabatan yang sejati itu, tidak akan pernah terpisahkan. Masalah, salah paham, kekeliruan, hanyalah kerikil kecil agar kita semakin kuat, dan saling merangkul erat. Mungkin kalau Meri baca ini nanti, dia sepakat sama saya.
Ada perasaan terharu ketika tadi Meri sempat bilang, "Waktu elo ultah Januari kemarin, gue sms Nda, tapi failed, dan benar saja, elo rupanya udah ganti nomor."
Terharu dan hampir saja meneteskan air mata. Kami mungkin sudah tiga tahun lebih tidak ada komunikasi, tapi dia masih ingat tanggal lahir saya :(
Ah akhirnya, sahabatku yang sempat hilang itu, telah kembali. Dan suaranya tidak berubah tadi di telepon :D
Biglove,
Adinda Bintang
Friday, December 7, 2012
Short trip but FUN ( Part 3)
(selanjutnya)
Setelah cipika cipiki pamitan dengan sepupu yang
masih akan tinggal beberapa hari lagi di Singapura, saya segera menenteng tas
menuju boarding room. Lagi, dan lagi, harus jalan jauuhh, karena boarding room
Air Asia ada diujung airport Changi -___-
Apakah semuanya biasa saja saat akan kembali ke
Jakarta? Oh tentu tidak. Seperti yang sudah saya sebutkan di atas, tidak ada
kata “biasa” setiap saya melakukan perjalanan.
Saat sudah duduk manis di boarding room, saya baru
sadar batre BB sudah setengah.
Ditambah memang sudah bocor, saya khawatir
setiba di Jakarta batrenya benar-benar habis dan susah menghubungi supir. Maka saya sibuk cari colokan, beberapa kali pindah
tempat duduk. Sampai akhirnya menyerah, bahwa colokan BB ini tidak sama dengan
colokan yang tersedia di Singapura. Poor me haha..
10 menit berlalu saya asyik mengutak-atik Galaxy Tab,
tanpa memperdulikan boarding room yang telah sepi. Disitu hanya ada seorang pramugari yang menanti para
penumpang untuk masuk ke dalam pesawat. Saya tengok ke jam di BB, dan cek
tiket, “Ah masih lama kok.”
Sampai ada satu penumpang berjalan di depan saya,
yang langsung saya cegat, “Ini penerbangan kemana ya?”, dia jawab “ke Jakarta”.
Yaaa Allaahh Adindaaaaaaaaaaa!! Hahahaa..
Jadi tuh saya tahu ada panggilan naik ke pesawat.
Anehnya ini kuping, dengarnya ke YOGYAKARTA bukan JAKARTA!! Hiks.. hikss.. dong
dong dong..
Loncatlah saya dari kursi dan tergopoh-gopoh menuju
pesawat. Tiba di dalam, rupanya penumpang semua sudah naik dan tinggal menunggu
saya masuk. Baiklah seperti orang penting kan saya jadinya? LOL
Ya demikianlah perjalanan saya yang bak orang kaya
ini. Ke Singapura tidak sampai 24 jam.
Ada sedikit catatan penting:
1. Selama
disana, saya total menggunakan wedges merek Hush Puppies (Hebat bukan? Sepupu
saya saja sampai berkali-kali meminta saya ganti ke sendal, tapi saya yakin ini
sepatu aman banget dipakai ber jam-jam).
2. Kalau
duit pas-pas an mending makan street food saja. Begitu juga dengan
transportasi, gunakan bus atau MRT.
3. Terakhir,
pergi sendiri tanpa orangtua itu memang seruuuu. Gak seru nya, kalau duit mulai
menipis, susah “nodong” nya *krik-krik-krik*
Ada yang punya kisah lebih menarik dari cerita saya
di atas? SHARE.. SHARE.. SHARE! ::)))
-Adinda Bintang-
Subscribe to:
Posts (Atom)
