Wednesday, September 12, 2012

The Importance of Cooking For Women


"About two weeks ago, I met an old friend whom for a long time I did not meet. We discussed about anything, like our jobs and activities. When our discussion turned to our wives at home, he told me that he was disappointed since her wife could not cook well for him.

I started to think, is it a problem if your wife can not cook well for you? I never think about it before because my wife is a great cooker. I just have already known that disability of cooking can be a problem between husband and wife.

I always think before that it would not be a problem for me if my wife can not cook well. I mean, we can buy some food outside. But after listening to my friend's story and his disappointment, I try to understand what actually the problem is.

For husbands, every single thing that our wives do will give special effects, whether positives or negatives effects. I think the wives also feel in the same way. In short, it would happen to every couple who love each other. For cooking matter, generally husbands are eager to eat any food their wives have cooked for them.

I feel something special when I eat some food my wife has cooked for me. I am proud and feel that I am appreciated to be served in special way by my wife when she cooks me some food. I can not imagine if my wife is not able to cook well for me so I have to take some food outside everyday. I have thanked to God about many things I have found in my wife, but for the first time, now I thank to God since my wife is a great cooker.


Now I know that ability of cooking can be called as a must for women. You might find many men who do not care whether their wives are able to cook or not. They think simply that they buy any kind of food outside. But in fact, most of men will more appreciate their wives who can cook and serve them well, even they will be more proud of their wives. Being smart, active, and beautiful are important for women, but being able to cook well also important."

Source:  http://ezinearticles.com/?The-Importance-of-Cooking-For-Women&id=3198189


Monday, June 18, 2012

Vous Manquez @>--

Assalamualaikum...
















Location: Taman Impian Jaya Ancol



*salam-jilbab*

Monday, May 14, 2012

Kami Berbeda Namun Satu (bagian 2) #YogyaTrip


*selanjutnya*

Sepertinya kalau saya jelaskan Taman Sari, Malioboro, pasar Beringharjo, sudah umum yah. Kalian para pembaca blog, mungkin lebih fasih menjelaskan tiap sudut nya dibanding saya sendiri.

Baiklah gimana kalau saya menceritakan tentang perayaan Waisak yang berlangsung pada 6 Mei di Candi Borobudur? Ini baru menarik!

Rencana yang sudah disusun rapih lagi-lagi harus berubah karena beberapa alasan. Salah satunya adalah faktor cuaca yang tidak mungkin bisa dihindari (Dibaca: Hujan).

Awalnya kami ingin mengikuti iring-iringan rombongan para biksu dari Candi Mendut ke Candi Borobudur yang berlangsung pukul 13-15 WIB. Sayangnya, baru tiba di Borobudur itu sekitar pukul 3 sore.

Patah semangat kah kami? Oh tentu tidak!

Tiba bisa melihat mereka arak-arakan, kami segera 'merapatkan barisan' (apeeeeeuuuu!) menuju ke Candi Borobudur yang merupakan candi Budha terbesar di abad ke 9.

Diiringi gerimis hujan yang tak kunjung berhenti, kami yang sempat tidak bisa masuk ke Candi dikarenakan jam operasionalnya yang tutup jam 5 sore, akhirnya bisa masuk. Kalau kata ustad saya, "Kalau niat sudah bulat, aral apapun pasti bisa dilalui."

Setibanya di area Candi Borobudur, kami langsung menuju pelataran puja bakti, yang berlatar belakang Candi Borobudur. Disana terdapat tempat beribadah, yang memang sudah jadi tradisi dikhususkan untuk perayaan Waisak.

Sebelum prosesi ibadah dimulai, kami yang memang 'banci tampil', lantas grabak grubuk mendekati Altar Puja Bhakti untuk mengabadikan diri di lensa kamera. Dan benar saja, tidak berapa lama, kami ngeksis di Altar, petugas menyuruh kami semua untuk segera turun karena ibadah akan segera dimulai.

Dari awal rencana ini dibuat, tujuan kami memang cuma satu sih. Ingin ikut-ikutan umat Budha lainnya untuk menerbangkan lampion ke langit sambil mengucapkan harapan.

Berhubung di dekat Altar puji sudah tidak memungkinkan kami untuk duduk santai, 'kaburlah' kami semua ke belakang altar atau lebih tepatnya mendekati Candi Borobudur.

Seolah mendapat tempat spot yang lebih cihuii untuk berfoto, lagi-lagi gerimis yang sepertinya betah mengguyur kita tidak menjadi halangan HAHAHA!

Foto-foto narsis kami bisa dilihat di bawah ini:



















Semangat kami yang mulai mengendur karena cukup lama menunggu mereka beribadah, muncul kembali ketika akan dilaksanakan Pradaksina. Pradaksina merupakan salah satu rangkaian Waisak, dimana sekitar 300 Biksu berjalan mengelilingi Candi Borobudur sebanyak tiga kali sambil membawa lilin. Prosesi ini berlangsung sekitar pukul 21:00 WIB.

Sebenarnya prosesi Pradaksina ini bisa diikg uti oleh umat beragama lain, tapi kami enggan melakukannya. Mungkin karena sudah kecapaian kali yah hehehe..

Pradaksina selesai kira-kira pukul 22:00, dan tibalah saatnya melepaskan lampion. Lampion ini bukan secara cuma-cuma diberikan, kami harus merogoh kocek Rp 100 ribu. Di lampion tersebut, tertulislah nama saya (Adinda), Ajeng, Mini, Dami, Ivo dan Erwan.

Acara pelepasan lampion dimulai oleh 'tetua' Biksu, dilanjut para pejabat yang berwenang, setelah itu baru kami para masyarakat.

Berkali-kali saya tak berhenti menyebut "Allahu Akbar", "Subhanallah". Memang sih meski ini bukan ritual agama saya, tapi tetap saja, keberadaan saya di Borobudur untuk merayakan Waisak adalah hal yang 'menakjubkan' dan pasti akan saya kenang seumur hidup :D

Langit yang sepi karena bintang-bintang ngumpet setelah hujan, menjadi bersinar akibat lampion-lampion ini. Lampion satu dengan yang lainnya, seperti teman akrab, ketika diterbangkan, mereka saling mendekati dan 'bercengkrama'. Indahnyaaaaaaaaa yaa Rabb!!

Puas menerbangkan, foto2 dan melihat langit yang penuh lampion, kami tersadar waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam. Seperti di film Cinderella, jam 'eksis' kami di luar istana sebentar lagi habis.

Lelah? Iya. Lepek? Banget. Lapar? Sangaattttt!! Tapi semua itu seolah terbayarkan dengan perayaan Waisak malam ini.

Seperti judul nya "Kami Berbeda Namun Satu", meski kami semua beragama Islam, bukan berarti 'anti' untuk melihat perayaan agama lain. Dimana kali ini kami menyaksikan umat Budha merayakan hari besarnya.


Sekian cerita saya mengenai liburan kami ke Jogjakarta yang berlangsung mulai tanggal 4-7 Mei 2012. Menyenangkan dan Alhamdulillah ya Allah :)


Sampai jumpa di postingan saya selanjutnya..


*salam-jilbab*

Pulang ke kota mu (bagian 1) #YogyaTrip


Assalamualaikum..

4 Mei lalu, saya bersama teman pencinta jalan-jalan mengadakan trip ke Jogjakarta. Teman-teman ini terdiri dari Dami, Mini, Irvan, Ivo, Erwan, Lily, Pita, Bita, Ajeng, Uci dan Jo.

Kepergian kami ke kota Gudeg kali ini terdiri dari 3 kelompok. Kelompok pertama terdiri dari saya, Dami, Ivo, Irvan, Erwan, Lily, Pita, Bita, Uci dan Jo. Kami menggunakan kereta bisnis Senja Utama yang berangkat dari stasiun Senen yang berangkat 4 Mei pada pukul 19:35 WIB.

Kelompok kedua, yang hanya terdiri dari Mini berangkat dari Bali dengan menggunakan pesawat Garuda. Ia tiba pada 5 Mei (Sabtu pagi). Selanjutnya Ajeng yang saya masukkan kelompok ketiga, sudah berangkat dari 4 Mei pagi.


Kepergian kami ke Jogja kali ini, bukan perjalanan yang 'biasa'. Dimulai dari ocehan Irvan yang mengatakan perayaan Waisak di Borobudur sangat indah ketika kami pulang dari plesiran ke Dieng, membuat kami berpikir "Inilah tujuan jalan-jalan kami berikutnya".

Jadilah saya dan Mini bagian seksi 'repot'. Kami berdua lah yang berjibaku mencari tiket kereta, menguber anak2 untuk tidak telat membayar tiket kereta, dan tentu saja menyewa mobil.

(Untuk ini, saya ingin mengucapkan banyak terima kasih kepada kawan-kawan atas kerjasamanya)



-----------------------------------------------------------------------------------------------------------

+) Berpetualang di Cave Tubing

Setelah kami berkumpul semua di rumah Ajeng pada Sabtu (5 Mei) pagi, tujuan kita pertama adalah menuju Cave Tubing Gua Pindul. Lokasinya yang berada di Karangmojo, Gunung Kidul membutuhkan waktu PP 3 jam dari Tugu Jogja.

Okay sedikit cerita, rencana ke Cave Tubing ini sebenarnya muncul di detik-detik keberangkatan kami ke Jogja. Lagi-lagi Irvan lah pencetus ide nya. Awalnya saya tidak menyetujui, karena waktu dan medan nya yang cukup melelahkan. Tapi apa mau dikata, ketika dilakukan voting, anak2 seluruhnya setuju. Jadilah kita berangcuuttssssss!

Saya pribadi tidak tahu dengan detail, ada apa saja di Cave Tubing. Tapi rasanya memang lebih baik seperti itu, biar kesannya surpise (bisa juga karena malas gooling sih #eeeaaa)

Mengenai Cave Tubing dan bagaimana sensasi nya selama disana, silahkan dibaca blog teman saya di click here dan ini foto-foto nya:














*bersambung*